Senin

10 Des 2018

  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Kamis, 15 November 2018 | 00:05 WIB

    Telah dibaca 208 kali

    Ini Dia 4 Skenario Peningkatan Jalan Medan-Berastagi, Salah Satunya Seperti Kelok 9 di Sumbar

    Budiman Pardede
    Komisi D DPRDSU membahas peningkatan jalan Medan - Berastagi, Selasa siang (13/11/2018) di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan. (Foto: www.MartabeSumut.com)

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Kabar gembira datang dari gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU). Bukan apa-apa, gagasan pembangunan ruas jalan alternatif Medan-Berastagi yang sempat menyeruak deras sedari tahun 2011, kini dibahas Komisi D DPRDSU bersama para pihak terkait.

    Pantauan www.MartabeSumut.com saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D DPRDSU, Selasa siang (13/11/2018) di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan. tampak anggota Komisi D DPRDSU seperti H Fahrizal Efendi Nasution, SH, H Syamsul Qodri Marpaung, Lc, Yantoni Purba, H Arfan Maksum Nasution, Leonard Samosir dan Donald Lumban Batu. Sementara pihak eksternal hadir Ketum Ikatan Cendikiawan Karo Dr Ir Budi D Sinulingga didampingi pengurus Prof Dr Johannes Tarigan dan 3 orang lagi. Ada pula Kabid Dinas PU Bina Marga Sumut Iswahyudi, Roy Sianturi dari Bappeda Sumut serta Herison mewakili Balai Besar Jalan Nasional (BBJN) Sumut.

    DPRDSU Dukung Penuh

    Usai pertemuan, Komisi D DPRDSU bulat mendukung penuh peningkatan ruas jalan alternatif Medan-Berastagi dengan 4 alternatif skenario yang diusulkan Ikatan Cendikiawan Karo. Diantaranya: pertama, jalan Medan-Berastagi tidak bisa lagi konvensional tapi memakai cantilver atau jembatan beton pada black-spot seperti pola jalan kelok 9 di Provinsi Sumbar. Rencana tersebut meliputi penembokan titik-titik rawan longsor dan pelebaran ruas jalan. Kedua, pembangunan jalan Rawasaring (Tanjungmorawa Deliserdang - Saribudolok Simalungun - Tongging Karo) dengan pengaspalan dan pelebaran jembatan guna mengantisipasi kemacetan/menunjang program destinasi pariwisata Danau Toba. Kemudian Rawasaring diharapkan jadi jalan tol atau non tol 3 lajur sepanjang 90 Km. Ketiga, jalan alternatif pararel. Keempat, sebelum program peningkatan jalan Medan-Berastagi dilakukan, aparat terkait wajib selalu standby menanggulangi kemacetan yang kerap terjadi.

    Masih pengamatan www.MartabeSumut.com, beberapa anggota Komisi D DPRDSU yang hadir terlihat antusias memberi respon. Yantoni Purba, misalnya. Menurut politisi Partai Gerindra ini, peningkatan ruas jalan Medan-Berastagi bukan hanya untuk Kab Karo tapi dibutuhkan seluruh warga Sumut termasuk turis lokal/luar yang berkunjung ke kawasan wisata Berastagi bahkan Danau Toba. Tahun 2014, singkap Yantoni, masalah peningkatan jalan Medan-Berastagi telah disampaikan ke Kementerian PU di Jakarta. "Mungkin 10 kali kami datang ke sana. Alternatif mana pun kita pakai. Tetap saja muncul kendala pembebasan kawasan hutan lindung yang merupakan urusan pusat," ucap Yantoni. Koleganya Leonard S Samosir menambahkan, sinergitas seluruh komponen masyarakat Sumut sangat dibutuhkan agar aspirasi semakin kuat disampaikan kepada pemerintah pusat. Politisi Partai Golkar itu meyakini, 30 wakil Sumut yang duduk di DPR RI dan 4 orang DPD RI perlu didorong menggolkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur di Sumut. "Koordinasi antara 33 pimpinan kab/kota Sumut mutlak dikuatkan. Ayo kita sama-sama berjuang ke pusat. Kalo kita kompak, pasti daya dukung kuat ke pusat," aku Leonard, sembari menginformasikan, sebelum masuk tahun baru 2019, jalan di wilayah Pintu Angin Desa Pangambatan Kec Merek Kab Tanah Karo rentan runtuh bila tidak cepat dirawat/diperbaiki. Sedangkan Donald Lumban Batu meminta keseriusan pemerintah memperbaiki jalan dari Kab Tobasa ke Kab Asahan yang rusak parah sehingga membuat warga setempat marah. Hal senada dilontarkan Syamsul Qodri Marpaung. Bagi politisi PKS tersebut, peningkatan jalan alternatif Medan-Berastagi bukan masalah besar lantaran tujuannya membangun negeri dan wilayah sendiri. "Kemarin saya melintasi jalan rute Berastagi, Kabanjahe hingga Aceh. Waduh, sering kali macet loh. Kalo memang sudah ada program strategis peningkatan jalan, kita patut mendukung total," ujar Syamsul Qodri. Wakil Ketua Komisi D DPRDSU Fahrizal Efendi Nasution memastikan, sepanjang komitmen masyarakat Sumut kuat, niscaya pemerintah pusat tidak memandang sebelah mata. "Semangat kita harus sama. Semoga kementerian mendukung," katanya. Politisi Partai Hanura ini juga mencecar pejabat BBJN Sumut seputar dana perawatan jalan di Kab Tapsel. "Bagaimana dana perawatan dan perbaikan "jalan neraka" di Kec Sipirok Kab Tapsel ? Rakyat Tapsel sering mengeluh pada saya," selidik Fahrizal.

    Sesuai Perpres 5/2016

     

    Sebelumnya, Dr Ir Budi D Sinulingga dan Prof Dr Johannes Tarigan memaparkan konsepsi program peningkatan jalan Medan-Berastagi. Keduanya pun meminta dukungan Komisi D DPRDSU untuk merealisasikan. Sesuai Perpres No 5 tahun 2016 tentang penetapan Danau Toba sebagai salah 1 dari 10 Kawasan Strategis Parawisata Nasional (KSPN) dari 86 kawasan Parawisata Nasional, ungkap Budi, maka pembentukan Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT) berkorelasi terhadap akselerasi kemajuan kawasan wisata tersebut. Budi percaya, Danau Toba berpotensi pesat ketika pemerintah dan pemangku kepentingan konsisten membenahi infrastruktur jalan. Apalagi Perpres No 117 tahun 2015 telah mengatur jelas soal dukungan infrastrukur bagi pulau Sumatera. "Nah, kawasan Danau Toba dan Provinsi Sumatera Utara bisa berkembang pesat. Tapi pemerintah wajib merencanakan infrastruktur. Jangan hanya melihat secara nasional namun kurang mendalami kondisi lokal jalan Medan-Brastagi yang cukup parah," ingatnya. Budi merinci, ada 7 masalah dan isu strategis yang perlu diperhatikan pemerintah/stakeholder sesuai Perpres No 117 tahun 2015. Diantaranya: pertama, jalan tol Medan Binjai. Kedua, jalan tol Medan Kuala Namu. Ketiga, jalan tol Kuala Namu - Tebing Tinggi - Parapat. Keempat, jalan tol Parapat - Tarutung - Sibolga. Kelima, jalan tol Tebing Tinggi - Kisaran. Keenam, pembangunan jalan KA Siantar - Parapat serta ketujuh Bandara Silangit dan Sibisa. "Jalan tol ke pantai Barat perlu dikaji sesuai ilmu pembangunan wilayah yang pernah disampaikan mantan Menteri PU Dr Ir Purnomo Sidi (Alm)," imbau Budi. Menurut dia, hingga kini tidak ada akses tol ke kawasan Utara Danau Toba rute Karo, Dairi dan Pakpak Barat. Sedangkan jalan Medan-Brastagi dipastikannya sudah tak layak lagi sebagai akses utama ke Danau Toba karena sering sekali longsor bahkan rentan kemacetan 5-6 jam lebih. Budi memperkirakan, perpindahan minat turis dari kawasan Utara Danau Toba ke Selatan dan Timur Parapat adalah satu kiniscayaan. Akibatnya bisa menimbulkan kontaminasi daya tampung yang overloaded. "Komoditi dan parawisata kawasan Utara akan kurang memiliki daya saing sehingga terjadi disparitas pembangunan. Terjadi pula gangguan aktivitas sosial budaya seperti acara adat perkawinan/kematian," katanya.

     

    Pada sisi lain, Budi menyatakan pembangunan Jalan Rawasaring (Tanjungmorawa Deliserdang - Saribudolok Simalungun - Tongging Karo) urgen direalisasikan dengan model pengaspalan/pelebaran jembatan. Tujuannya untuk mengantisipasi kemacetan jalan dan menunjang program destinasi pariwisata Danau Toba. Artinya, timpal Budi lebih jauh, Rawasaring diharapkan berubah jadi jalan tol atau non tol 3 lajur sepanjang 90 Km. Budi optimis, kehadiran jalan Rawasaring bisa mendukung kesiapan Danau Toba tatkala dilengkapi fasilitas kapal ferry. Sehingga fungsinya akan sama dengan keberadaan ruas jalan tol Tebing Tinggi - Parapat. Fungsi lainnya sebagai jalan pembuka sosial ekonomi bagi warga Kab Karo, Dairi, Pakpak Barat, Simalungun atas hingga Aceh Tenggara. "Lebih penting dari tol Tebing Tinggi - Parapat yang panjangnya 98,5 Km. Sebab jalan tol tersebut tidak mendukung sosial ekonomi kawasan Utara Danau Toba. Sementara kegiatan sosial ekonomi Kawasan Selatan belum terganggu," terangnya. Budi Sinulingga menyimpulkan, demi keseimbangan pembangunan dan penanggulangan penderitaan masyarakat, maka peningkatan jalan Medan-Brastagi mutlak diwujudkan dengan pola jalan kelok 9 ala Provinsi Sumbar. Sejalan dengan persiapan peningkatan jalan Medan-Berastagi, antisipasi kemacetan total patut tetap diantisipasi. (MS/BUD)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER