Senin

20 Agu 2018

Pengunjung Hari Ini : 4.703,   Bulan Ini : 70.711
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Sabtu, 21 April 2018 | 00:05 WIB

    Telah dibaca 173 kali

    3.200 Prajurit TNI/Polri Sumut Diberi Pengarahan, Panglima TNI & Kapolri Ingatkan Kawal NKRI

    Budiman Pardede
    Panglima TNI dan Kapolri saat memberi pengarahan terhadap 3.200 prajurit TNI dan Polri Sumut, Kamis malam (19/4/2018) di Santika Hotel Medan. (Foto: www.MartabeSumut.com)

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Seluruh prajurit TNI/Polri Indonesia khususnya di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) harus tetap menjaga kepercayaan rakyat, meningkatkan kemampuan deteksi dini/cegah dini, merekatkan kemajemukan bangsa, dekat dan menyatu dengan rakyat, solid serta menjaga solidaritas. Kemudian menjunjung tinggi sikap netralitas TNI/Polri pasca-Pilkada  2018 dan Pileg/Pilpres 2019. Bila hal itu diwujudkan maksimal, niscaya komitmen harga mati Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa dipertahankan.

     

    Peringatan tersebut disampaikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian kepada 3.200 prajurit TNI/Polri se-Sumut, Kamis malam (19/4/2018) di Hotel Santika Medan. Pengamatan www.MartabeSumut.com di lokasi, Panglima TNI dan Kapolri tiba pukul 19.35 WIB didampingi Pangdam I BB dan Kapolda Sumut. Menurut Panglima TNI, soliditas, solidaritas dan sinergiitas prajurit TNI/Polri adalah kunci utama mengawal keutuhan NKRI dari ancaman dalam negeri maupun dunia internasional. "Sekarang kita memasuki revolusi industri generasi ke 4.0 atau digitalisasi. Siapa yang mau kuasai dunia, ya harus pegang big data cyber. Siapa yang punya data paling banyak, maka dia akan kuasai perdagangan, politik, sosial dan sebagainya. Hidup manusia saja sudah masuk sistem digital," ingat Panglima TNI.

     

    Panglima TNI memastikan, saat ini 51 persen penduduk bumi terhubung dengan jaringan internet. Bahkan 51 persen warga dunia juga menjadi citizen jounalist. Artinya, timpal Panglima TNI lagi, arus informasi sangat banyak beredar dan bisa disampaikan siapa saja, kapan saja bahkan dimana saja. Termasuk kemampuan setiap orang mengumpulkan follower atau "pasukan" yang tidak kelihatan. "Kemampuan digital/cyber itu luar biasa. Tapi berdampak terhadap 3 paradoks (ancaman)," ungkapnya. Panglima TNI merinci, 3 ancaman dunia diantaranya: Cyber/Siber, Biologi atau virus yang bisa dikembangkan dan dilepas seperti wabah difteri/jenis biologi lain yang dapat dikembangkan serta kesenjangan/inequality threats. "Yang kuasai teknologi akan mampu melakukan apapun. Sehingga sering terjadi kesenjangan/ketimpangan antara yang mampu dan yang tidak mampu. Muncullah kelompok radikalis atau sejenisnya," singkap Panglima TNI, sembari membeberkan, Indonesia punya 4 ancaman lokal meliputi: korupsi, Narkoba, intoleran dan berita hoax. Panglima TNI menggarisbawahi, 171 wilayah di Indonesia akan ikut Pilkada serentak 2018 dan 9 di Provinsi Sumut. Ancaman bisa muncul saat Pilkada dengan teknologi informasi. "Itulah ancaman yang harus kita atasi. Jangan lupa, jejak digitalisasi tak bisa dihapus karena dapat di-tracking," tutup Panglima TNI.

     

    Tenda Berlindung


    Hal senada disampaikan Kapolri. Baginya, Polri/TNI itu ibarat tenda berlindung. Sedangkan Indonesia adalah tenda besar negara yang wajib ditopang oleh tenda-tenda kecil untuk menjaga tenda NKRI. "Tenda Polri/TNI yang menentukan bagus tidaknya bangunan tenda NKRI. Kita harus pahami, Polri/TNI menjalankan politik negara menjaga bangunan Indonesia," ujarnya. Kapolri menilai, Indonesia dipengaruhi tatanan politik lokal dan internasional. Bisa berbahaya bila stabilitas politik dan keamanan tidak dikelola dengan baik. "Kekuatan internasional itu bersifat anarki atau tidak teratur. Sebab tidak ada presiden dunia atau kekuatan yang bisa memaksa suatu negara untuk tunduk," cetus Kapolri. Dalam artian, pengaruh global sangat berkorelasi pada keamanan dalam negeri lantaran berimplikasi pada kemunculan realisme, liberalisme dan konstruktivisme. Ketika cyber media luar biasa menghantam, imbuh Kapolri lebih jauh, yang repot tentu saja orang yang tidak paham. Polri/TNI disebut Kapolri punya doktrin NKRI harga mati. Sehingga harus solid supaya tenda bangunan Indonesia tidak lemah sebagai penjaga pilar NKRI. "Penting kita waspadai agar bangunan Indonesia tidak roboh. Kekuasaan di tangan rakyat, itulah demokrasi yang perlu dikawal saat Pemilu," yakin Kapolri, sambil menambahkan, globalisasi menghadirkan 4 tanda diantaranya: global village, kompetisi global antar negara, minimal military force dan kompetisi ekonomi - produksi. (MS/BUD)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER