Minggu

19 Agu 2018

Pengunjung Hari Ini : 1.284,   Bulan Ini : 64.101
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Sabtu, 30 Desember 2017 | 00:01 WIB

    Telah dibaca 277 kali

    Tahun 2017 ada 2.341 Bencana, 377 Tewas & 3,5 Juta Jiwa Mengungsi

    Dekson H
    Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. (Foto Courtesy BNPB).

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Data sementara menunjukkan, pada tahun 2017 ada 2.341 kejadian bencana yang terdiri dari banjir (787), puting beliung (716), tanah longsor (614), kebakaran hutan/lahan (96), banjir/tanah longsor (76), kekeringan (19), gempa bumi (20), gelombang pasang/abrasi (11) serta letusan gunung api (2). Sekira 99 persen adalah bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang dipengaruhi oleh cuaca dan aliran permukaan.

     

    Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kepada www.MartabeSumut.com, Jumat sore (29/12/2017). Sutopo mengatakan, dampak yang ditimbulkan akibat bencana selama tahun 2017 mengakibatkan 377 orang meninggal/hilang, 1.005 orang luka-luka dan 3.494.319 orang mengungsi/menderita. Kerusakan fisik akibat bencana meliputi 47.442 unit rumah rusak (10.457 rusak berat, 10.470 rusak sedang dan 26.515 rusak ringan), 365.194 unit rumah terendam banjir serta 2.083 unit bangunan fasilitas umum rusak (1.272 unit fasilitas pendidikan, 698 unit fasilitas peribadatan dan 113 fasilitas kesehatan). Bencana longsor disebutnya bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa. Tercatat 156 orang tewas, 168 jiwa luka-luka, 52.930 jiwa mengungsi/menderita dan 7 ribu lebih rumah rusak akibat longsor selama 2017. Sejak tahun 2014 hingga 2017, lanjut Sutopo, bencana longsor menjadi musibah paling mematikan. Sebab sangat banyak menimbulkan korban jiwa meninggal dunia. "Seringkali longsornya kecil namun menyebabkan 1 keluarga meninggal dunia. Hal ini disebabkan jutaan masyarakat tinggal di daerah-daerah rawan longsor sedang hingga tinggi dengan kemampuan mitigasi belum memadai. Implementasi penataan ruang harus benar-benar ditegakkan untuk mencegah daerah-daerah rawan longsor dikembangkan sebagai kawasan permukiman," ujarnya.

     

    Dampak Banjir

     

    Menurut Sutopo, dampak bencana banjir menyebabkan 135 orang tewas, 91 jiwa luka-luka, lebih dari 2,3 juta jiwa menderita/mengungsi dan ribuan rumah rusak. Sementara musibah angin puting beliung atau angin kencang juga terus mengalami peningkatan. Dari 716 kejadian puting beliung, Sutopo menyatakan telah berdampak pada 30 jiwa tewas, 199 jiwa luka, 14.901 jiwa mengungsi/menderita serta sekira 15 ribu rumah rusak. Sedangkan pengaruh siklon tropis Cempaka pada 27-29 November 2017 dinilainya menyebabkan bencana pada 28 kabupaten/kota di Jawa. Banjir, longsor dan puting beliung menyebabkan 41 orang tewas, 13 orang luka-luka dan 4.888 rumah rusak. "Daerah yang paling terdampak adalah Pacitan, Wonogiri, Kulon Progo dan Gunung Kidul karena berdekatan dengan posisi Siklon Tropis Cempaka," terangnya. Data BMKG selama tahun 2017 hingga 20/12/2017, kata Sutopo lagi, telah terjadi 6.893 kali gempa. Dimana gempa dengan kekuatan lebih dari 5 SR sebanyak 208 kali, gempa dirasakan 573 kali dan gempa merusak sebanyak 19 kali. Artinya, hampir setiap hari terjadi gempa dengan rata-rata 19 kali. Dampak gempa yang merusak adalah gempa 6,9 SR di Barat Daya Tasikmalaya yang menyebabkan lebih dari 5.200 rumah rusak.

     

    Sedangkan dari 127 gunung api di Indonesia, Sutopo menegaskan hanya ada 2 gunung api yang status Awas yaitu Gunung Sinabung sejak 2/6/2015 hingga sekarang dan Gunung Agung sejak 27/11/2017 sampai saat ini. Suatu gunung api jika statusnya Awas maka berpotensi tinggi terjadi erupsi. Erupsi pasti terjadi selama gunung tersebut berstatus Awas. Yang penting masyarakat dimintanya tidak melakukan aktivitas apapun di dalam radius berbahaya yang ditetapkan PVMBG. Di luar radius bahaya tersebut maka kondisinya aman dan normal. Sutopo melanjutkan, 18 gunung api di INdonesia juga berstatus Waspada. Yang lainnya status normal. Upaya komprehensif dalam pencegahan dan pemadaman yang kebakaran hutan/lahan telah pula menyebabkan hasil yang signifikan. Selama 2017, dia membenarkan luas kebakaran hutan/lahan hanya 150.457 Hektare atau menurun 65,7 persen dibanding tahun 2016. Begitu pula jumlah titik panas berkurang 33 persen. Tidak ada bandara, sekolah dan aktivitas masyarakat yang terganggu oleh asap. Selama 2 tahun terakhir, asap kebakaran hutan dan lahan tidak ada yang sampai mengganggu negara tetangga. "Dari sebaran bencana, daerah paling banyak terjadi bencana adalah di Jawa Tengah (600 kejadian), Jawa Timur (419), Jawa Barat (316), Aceh (89) dan Kalimantan Selatan (57). Sedangkan untuk kabupaten/kota, daerah yang paling banyak terjadi bencana adalah Kabupaten Bogor (79), Cilacap (72), Ponorogo (50), Temanggung (46), dan Banyumas (45)," ungkapnya.

     

    Kerugian Akibat Bencana Mencapai Puluhan Triliun

     

    Pada sisi lain, kerugian/kerusakan yang ditimbulkan bencana mencapai nominal puluhan triliun rupiah. Hingga kini, imbuh Sutopo lebih jauh, masih dilakukan perhitungan kerugian akibat dampak bencana. Kerugian ekonomi paling besar selama tahun 2017 adalah dampak dari peningkatan aktivitas vulkanik dan erupsi Gunung Agung di Bali. Penetapan status Awas pada September 2017, yang kemudian terjadi erupsi Gunung Agung pada 26-30 November 2017, ternyata menyebabkan kerugian ekonomi sekira Rp 11 triliun. Kerugian itu merupakan sebagian besar berasal dari kredit macet masyarakat yang harus mengungsi dan dari sektor pariwisata. "Menteri Pariwisata menyatakan kerugian di sektor pariwisata Bali mencapai Rp 9 triliun dari dampak erupsi Gunung Agung," singkapnya. Sutopo merinci, beberapa kerusakan dan kerugian akibat bencana yang terjadi pada tahun 2017 antara lain adalah banjir/tanah longsor pengaruh Siklon Tropis Cempaka sekira Rp 1,13 triliun, banjir Belitung Rp 338 miliar, banjir/longsor di Lima Puluh Koto Rp 253 miliar dan longsor Cianjur Rp 68 miliar. Sutopo yakin, tentu saja bencana banyak berpengaruh pada masyarakat yang terdampak. Diantaranya memerosotkan ekonomi/kesejahteraan masyarakat. Apalagi bagi masyarakat yang mengalami bencana berulang, seperti banjir di daerah Dayeuhkolot, Baleendah dan sekitar Sungai Citarum, musibah banjir kerap melanda masyarakat sekira 10-15 kali/tahun. Begitu pula masyarakat di sekitar Sungai Bengawan Solo, Sungai Kemuning di Madura dan lainnya yang terlanda banjir berulang. Lahan pertanian yang terendam banjir menyebabkan gagal panen. Petani menanam padi dengan modal hutang, yang akhirnya tidak mampu membayar hutang. "Petani terpaksa hutang lagi untuk modal menanam padi berikut. Begitu juga masyarakat yang terkena bencana. Harta miliknya hilang sehingga jatuh miskin dan memerlukan bantuan," cetusnya.

     

    Bagi Sutopo, Indonesia memang tinggal di negara yang kaya bencana, laboratorium bencana dan bukan super market bencana. Untuk itu, imbau Sutopo, sudah seharusnya rakyat Indonesia siap menghadapi bencana. Sebab bencana menjadi suatu keniscayaan. Apalagi besar kecilnya bencana sangat ditentukan oleh alam. Termasuk pengaruh manusia yang begitu dominan merusak alam, meningkatkan kerusakan hutan, degradasi lahan, kerusakan lingkungan, DAS kritis dan sebagainya. "Manusia ikut memicu terjadinya bencana. Untuk itulah, pengurangan risiko bencana harus jadi mainstream dalam pembangunan di semua sektor. Pengurangan risiko bencana menjadi investasi pembangunan dan warisan untuk generasi mendatang. Semoga kita makin tangguh menghadapi bencana," tutup Sutopo. (MS/DEKS)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER