Jumat

20 Okt 2017

Pengunjung Hari Ini : 156,   Bulan Ini : 73.564
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Sabtu, 7 Oktober 2017 | 00:05 WIB

    Telah dibaca 136 kali

    Medan Dapat Award Kota Terbaik, Syamsul Qodri Marpaung: Ngawur & Pembohongan, Usut Pemberi Award..!

    Budiman Pardede
    Wakil Ketua Komisi A DPRDSU H Syamsul Qodri Marpaung, Lc, saat dikonfirmasi di gedung DPRDSU Jalan Imam Bonjol Medan, Jumat siang (6/10/2017). (Foto: www.MartabeSumut.com)

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Wakil Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU) H Syamsul Qodri Marpaung, Lc, heran. Bingung mengetahui Kota Medan meraih penghargaan kota terbaik se-Indonesia 2017 dan regional Sumatera dari Indonesia Attractiveness Award (IAA), Jumat 29 September 2017 di Jakarta. Selain memastikan penilaian tersebut ngawur, pembohongan, sesat, sesaat, pencitraan pihak tertentu dan sulapan di atas kertas belaka, legislator membidangi hukum/pemerintahan itu meminta pihak terkait segera mengusut lembaga yang mengeluarkan award.

     

    Kepada www.MartabeSumut.com, Jumat siang (6/10/2017) di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan, Syamsul Qodri mempertanyakan kompetensi IAA berani memutuskan Kota Medan sebagai kota terbaik Indonesia dan secara regional Sumatera tahun 2017. Sebab, ujar Syamsul Qodri, jangankan orang luar yang tidak memahami Kota Medan, warga Medan sendiri banyak yang menolak predikat itu lantaran jauh dari kebenaran. "Dasar ngawur..! Apa variabel IAA memberi penilaian ? Siapa-siapa tim penilainya ? Untuk kategori regional saja Kota Medan belum mampu mengalahkan kota di Pulau Sumatera seperti Padang dan Pekanbaru. Apalagi sebutan kota terbaik se-Indonesia. Penilaiannya benar-benar ngawur," cetus Syamsul Qodri blak-blakan. Legislator asal Dapil Sumut V Kab Asahan, Kab Batubara dan Kota Tanjung Balai ini mencontohkan, hingga kini Kota Medan masih terus dilanda masalah klasik tahunan semisal banyaknya jalan rusak/berlobang di tengah Kota Medan, tertib lalulintas sangat buruk, banjir setiap hujan turun, penataan kota berantakan serta kawasan ring road yang gagal mengurai kemacetan. Belum lagi pedagang pasar berjualan di bahu jalan sehingga menyulitakan arus lalulintas. Begitu pula kondisi pasar tradisional yang tidak tertata baik, pedagang kaki lima berjualan bebas tak beraturan, kebersihan kota memprihatinkan, taman rekreasi kota minim, kejahatan merajalela hingga peredaran Narkoba marak di kawasan hiburan. Artinya, sindir Syamsul Qodri lagi, predikat kota terbaik wajib jelas ukurannya dan bisa diterima publik. "Padang itu kotanya bersih. Kota Medan jauh ketinggalan soal kebersihan. Apalagi kondisi jalan yang hancur-hancuran dibiarkan Walikota Medan Dzulmi Eldin. Kalau dari kategori kebersihan, tepat bila Padang masuk kota terbaik. Makanya, patut diselidiki sejak kapan penilaian dilakukan IAA, apa variabel penilaian, siapa yang menilai dan sejauh mana tim penilai IAA memahami realitas denyut Kota Medan," terangnya.

     

    Usut Pengusul & Pemberi Award

     

    Bila bercermin dari variabel empiris miris masalah-masalah kekinian di Kota Medan, politisi PKS ini berkeyakinan, award yang dikeluarkan IAA jelas-jelas mengganggu rasa keadilan masyarakat Kota Medan, memutarbalikkan fakta serta terindikasi melakukan pembohongan publik. Syamsul Qodri pun menyatakan ingin tahu siapa orang-orang dibalik lembaga IAA dan se-valid apa tahapan proses suatu award dikeluarkan. Kemudian, siapa pula pejabat/pihak tertentu di Kota Medan yang kemungkinan sengaja memesan dan apa motif IAA mengeluarkan award kota terbaik untuk Kota Medan 2017. "Saya harap pemerintah mengusut tuntas lembaga pemberi award termasuk pihak yang mengusulkan. Paham gak IAA dengan Kota Medan ? Kenal gak mereka KOta Medan ? Jangan kita biarkan pembodohan dipertontonkan seenaknya. Hentikan pola-pola memalukan begini karena sama saja seperti membeli ijazah "aspal" dari kampus bodong," cetusnya. Kedepan, imbuh Syamsul Qodri lebih jauh, otoritas pemerintah patut meneliti semua lembaga yang kerap mengeluarkan award terhadap pribadi, organisasi, kelompok, daerah atau sejenisnya. Dan ketika ada lembaga abal-abal terbukti mengeluarkan award pesanan alias tidak sesuai fakta, Syamsul Qodri menyarankan agar segera ditertibkan atau diberi sanksi tegas. "Kalo lembaga pemberi award abal-abal dibiarkan merajalela, tentu saja ibarat berita hoax (bohong) yang beredar. Sangat membahayakan situasi, mengacaukan kebenaran, bertujuan pencitraan, propaganda sesat/sesaat, sulapan di atas kertas dan penuh kebohongan," tutup Syamsul Qodri Marpaung dengan nada tinggi. (MS/BUD)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER