Sabtu

17 Nov 2018

Pengunjung Hari Ini : 2.221,   Bulan Ini : 58.029
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Senin, 24 Maret 2014 | 17:33 WIB

    Telah dibaca 1943 kali

    Rinawati Sianturi: Pemilih Pemula Jangan Golput dan Jangan Asal Pilih

    Budiman Pardede
    Anggota DPRD Sumut/Caleg DPRD Sumut 2014-2019 Rinawati Sianturi, SH, saat diwawancarai MartabeSumut, Senin (24/3/2014) di gedung DPRD Sumut.(Foto: MartabeSumut)

    MartabeSumut, Medan

     

    Menyongsong pesta demokrasi rakyat Indonesia melalui Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 9 April 2014, para pemilih pemula jangan sampai tidak menggunakan hak pilih (Golput). Dan ketika menggunakan hak politik, jangan pula asal memilih namun mengamati seksama profile suatu partai politik (Parpol) dan calon legislatif (Caleg) yang diusung.

     

    Imbauan tersebut dilontarkan Rinawati Sianturi, SH, calon legislatif (Caleg) asal Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) untuk DPRD Sumut periode 2014-2019 Nomor Urut 2 Daerah Pemilihan (Dapil) X Kota Pematang Siantar dan Kab Simalungun. Rinawati mengatakan, pelaksanaan Pileg 2014 yang tinggal 15 hari lagi pantas disikapi anak-anak muda berusia 17-19 tahun dan tergolong pemilih pemula untuk mempersiapkan partisipasi hak politik masing-masing demi perbaikan daerah, bangsa dan negara 5 tahun kedepan. "Pemilih pemula jangan sampai Golput. Jangan pula asal pilih. Pilihlah partai dan Caleg yang memang dari awalnya berlatarbelakang nasionalis. Pemimpinnya punya strategi, mengadopsi kepentingan rakyat serta tidak sekadar janji-janji kosong," cetus Rinawati kepada MartabeSumut, Senin siang (24/3/2014) di gedung DPRD Sumut Jalan Imam Bonjol Medan.

    Apa strategi yang Anda lakukan dalam sosialisasi selama ini terhadap pemilih pemula dan apa-apa pula yang dijanjikan bila terpilih kelak? Rinawati justru tersenyum kecil. Bagi dia, sosialisasi yang dilakukan kepada pemilih pemula dioptimalkan dengan pola pendekatan nyata sesuai aspirasi generasi muda. "Kita lakukan seminar-seminar kerohanian, mendukung program kegiatan olahraga pemuda semisal sepak bola, volly bahkan memfasilitasi alat-alat pendukung seni tarik suara seperti gitar," katanya. Sedangkan janji kepada pemilih pemula dan masyarakat umum dikatakan Rinawati tidak muluk-muluk selain memastikan tekad untuk terus berjuang mengalokasikan pertambahan anggaran pembangunan Kota Siantar dan Kab Simalungun.


    Aroma Tak Sedap Politik Transaksional

     

    Menurut anggota Komisi B DPRD Sumut masa bakti 2009-2014 itu, akhir-akhir ini aroma kurang sedap terkait masyarakat transaksional dalam setiap pentas Pemilu bukan lagi sesuatu yang tersembunyi dipraktikkan. Melainkan terlihat jelas di permukaan tanpa memikirkan dampak buruk luas kedepannya. Makanya, lanjut Rinawati lagi, rakyat wajib mengenali bobot masing-masing Caleg dan jangan mau menjadi masyarakat transaksional menjelang pelaksanaan Pileg 2014. Pada sisi lain, masyarakat Sumatera Utara (Sumut) dan rakyat Indonesia disarankannya menjauhkan diri dari gerakan praktik transaksional jual beli suara dalam setiap ajang Pileg, Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) hingga Pemilu Presiden (Pilpres). Sebab, praktik tersebut diyakininya mencerminkan pembusukan budaya, merusak iklim demokrasi serta menghasilkan bobot pemimpin yang tidak amanah.

     

    Pengkondisian Segelintir Elite Berkepentingan

     

    Anggota DPRD Sumut dari Fraksi Peduli Pelopor Rakyat Nasional (PPRN) ini menegaskan, menjelang pelaksanaan Pileg, Pilkada atau Pilpres, masyarakat transaksional kerap bermunculan akibat pengkondisian segelintir elite yang menargetkan kepentingan sesaat. Artinya, timpal politisi yang murah senyum itu, mindset (cara fikir-Red) masyarakat diubah secara praktis dengan konsepsi jual beli. Padahal, Rinawati sangat percaya bahwa seorang Caleg, anggota Dewan atau pejabat parpol yang datang menemui rakyat harusnya membawa semangat perubahan kesejahteraan/pembangunan daerah dan bukan mengubah mindset rakyat menjadi rusak. Rinawati mencontohkan, selaku anggota DPRD Sumut, dirinya selalu mendatangi konstituen ke daerah-daerah dengan menawarkan penyelesaian masalah atas berbagai persoalan di lapangan. "Saya katakan kepada masyarakat kalau saya bukan malaikat. Saya datang menemui rakyat untuk bertanya dan menawarkan anggaran kesejahteraan yang besar kemungkinan bisa saya perjuangakan untuk dialokasikan kepada rakyat di daerah," akunya.

     

    Ironisnya, imbuh Rinawati lebih jauh, kehadiran mayoritas Caleg, anggota Dewan dan elite Parpol ke Dapil masing-masing justru tidak dipercaya rakyat lagi saat ini. Kedatangan Caleg malah dipandang sebagai sesuatu yang akan diukur sebatas transaksi uang melalui pembelian suara. "Money oriented saat Pemilu jangan sampai terjadi karena merusak sendi-sendi demokrasi. Politik transaksional hanya melahirkan pemimpin/legislator yang tidak kompeten, tidak amanah dan tidak bakal memperjuangkan kepentingan rakyat setelah yang bersangkutan menjabat," ingatnya.

     

    Bergandengan Tangan Menolak Perangkap Transaksional

     

    Oleh sebab itu, semenjak dini, Rinawati mengajak masyarakat Sumut dan rakyat Indonesia untuk bergandengan tangan menolak pengaruh dan perangkap pemikiran sesat transaksional menjelang Pemilu apapun khususnya Pileg 9 April 2014. Tapi fokus mengenali bobot Caleg, calon pemimpin daerah atau calon pemimpin nasional yang bakal dipilih kelak. Lalu, pernahkah Anda mendengar langsung masyarakat meminta uang dengan alasan imbalan pembelian suara? Rinawati pun tidak menepis fakta miris tersebut. Dia mengakui, tidak sedikit warga di satu daerah tertentu yang dengan terus terang berjanji padanya bisa mengumpulkan suara namun selanjutnya meminta sejumlah imbalan uang. Rinawati menegaskan, memasuki Pileg 9 April 2014 dan Pilpres sekira bulan Agustus 2014, masyarakat patut jeli mengenali bibit, bebet dan bobot para Caleg secara detail. Rakyat yang saat ini masih saja tidak percaya disarankannya bersikap jelas dengan cara menjaga iklim demokrasi. Kemudian berupaya keras mencari tahu latar belakang seorang Caleg/calon pemimpin serta menolak perangkap sesaat kelompok elite yang mengarahkan politik transaksional. "Mari kita jaga marwah dan roh demokrasi. Pilihlah orang yang amanah, kompeten dan diyakini bisa memperbaiki kesejahteraan rakyat. Jangan mau dibeli karena kelak kita yang akan dijualnya saat menjabat," tutup Rinawati diplomatis. (MS/BUD)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER