Rabu

18 Jul 2018

Pengunjung Hari Ini : 627,   Bulan Ini : 30.371
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Kamis, 12 Desember 2013 | 00:02 WIB

    Telah dibaca 1441 kali

    Alamsyah Hamdani, SH: Anarkis di Jalan Guru Patimpus Medan Cermin Intelijen Negara pada Titik Nadir

    Budiman Pardede
    Sekretaris Komisi A DPRDSU H Alamsyah Hamdani, SH (kiri) dan Praktisi Hukum A Marwan Rangkuti, SH. (Foto: MartabeSumut).

    MartabeSumut, Medan

     

    Aksi anarkis sekelompok orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Jalan Guru Patimpus Medan, Selasa (10/12/2013) kemarin, merupakan cermin Intelijen Negara yang berada pada titik nadir. Fakta ini kian menjadi sangat miris sebab berdampak buruk terhadap stabilitas yang kondusif serta rasa percaya rakyat memperoleh rasa aman.

     

    Penilaian kritis tersebut dilontarkan Sekretaris Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU) H Alamsyah Hamdani, SH, kepada MartabeSumut, Rabu siang (11/12/2013) di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan. Menurut Alamsyah, berbagai peristiwa kekerasan massa yang bersifat masif di Kota Medan akhir-akhir ini tidak bisa dilepaskan dari tanggungjawab intelijen negara. Sebab, selain mempunyai tugas pokok mengendalikan keamanan Nasional, intelijen negara yang bertugas di daerah berkewajiban memonitor indikasi peristiwa apapun yang belum muncul ke permukaan. "Gerakan anarkis massa di Jalan Guru Patimpus Medan itu cermin intelijen negara pada titik nadir. Perlu diberi pertanyaan besar kepada intelijen TNI, Polri dan Kejaksaan. Kemana mereka semalam, dimana mereka semalam dan apa yang mereka kerjakan selama ini," sindir legislator membidangi hukum dan pemerintahan itu dengan nada tanya.


    Koordinasi Lemah, Intelijen di Titik Nadir

     

    Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini pun membeberkan alasan kenapa menilai intelijen berada pada titik nadir. Mulai dari koordinasi yang lemah hingga komunikasi yang terkesan kurang harmonis antara lembaga TNI, Polri dan Kejaksaan. Artinya, lanjut Alamsyah, ke-3 institusi strategis tersebut memiliki struktur intelijen masing-masing namun realisasi kinerja justru tidak memunculkan aktualisasi peran intelijen negara yang solid. "Makanya saya katakan peran intelijen kita di era reformasi ini berada di titik nadir. Ketiga lembaga cuma berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik. Kalau koordinasi mereka baik, pastilah kejadian anarkis siang bolong semalam tidak terjadi," cetusnya.

     

    Tatkala disampaikan bahwa di kalangan wartawan sendiri deras beredar informasi akan terjadinya bentrokan massa pasca-ribuan orang Pemuda Merga Silima (PMS) Kota Medan berunjukrasa ke DPRD Medan semalam, anggota DPRDSU periode 2009-2014 asal Daerah Pemilihan (Dapil) Kab Serdang Bedagai (Sergai) dan Kota Tebing Tinggi ini justru tersenyum kecut. Bagi Alamsyah, adalah sesuatu yang mengerikan rasanya bila koordinasi yang sudah lemah itu ternyata diikuti pula dengan sikap anggap remeh, tidak peduli bahkan "memakan" sendiri informasi penting yang diterima tanpa meneruskan kepada pimpinan maupun lembaga terkait. "Okelah kita umpamakan saja 3 lembaga negara tadi kurang koordinasi. Tapi bila 1 lembaga intelijen semisal Polri saja anggota Intelnya "memakan" sendiri, meremehkan dan tidak meneruskan informasi penting kepada pimpinannya, ya mau dibawa kemana nasib keamanan daerah maupun Republik ini kelak," ujarnya dengan nada tinggi. Calon Legislatif (Caleg) DPRDSU periode 2014-2019 dari PDIP Nomor Urut 1 Dapil Sumut IV Kab Sergai dan Kota Tebing Tinggi itu mencontohkan, pada era kepemimpinan Soeharto posisi intelijen berperan sangat bagus dan kuat. Hal itu dipastikannya bisa terwujud karena koodinasi kolektif 3 lembaga negara yang peduli menjaga keamanan serta berbagi informasi secara berkesinambungan. "Sekarang intelijen negara di pusat dan daerah lemah sekali. Sering kebobolan dan tertinggal jauh di belakang. Saat ini rakyat kita sendiri telah berani menilai apatis kalau koordinasi intelijen yang lemah itu bertujuan menciptakan proses pembiaran. Rakyat heran melihat peran intelijen yang sebenarnya sudah tahu gejala satu peristiwa yang bakal terjadi tapi intelijen justru pura-pura tidak tahu," tutup Alamsyah diplomatis.

     

    Intelijen TNI/Polri dan Kejaksaan Jangan Tidur

     

    Hal senda disampaikan Praktisi Hukum A Marwan Rangkuti, SH. Berbicara melalui saluran telepon kepada MartabeSumut, Rabu sore (11/12/2013), pengacara muda itu mengimbau intelijen TNI, Polri dan Kejaksaan tidak sebatas kelembagaan formal namun realitas kinerja kosong alias ketiduran. "Intelijen TNI, Polri dan Kejaksaan jangan tidur aja dong. Turunlah ke lapangan dan lihat gejala-gejala yang merusak stabilitas negara," tegasnya. Marwan mengingatkan, bila aksi anarkis kerap terjadi dengan mudah, maka proses hukum akan tertinggal jauh di belakang sebab pelanggaran pidana sudah lebih dulu terjadi. Oleh karenanya, imbuh Marwan lagi, lembaga intelijen di tubuh TNI, Polri dan Kejaksaan patut berkoordinasi tanpa henti. "Saya rasa kalo sudah baik koordinasi, niscaya hubungan tugas berjalan baik," yakinnya. Terpisah, MartabeSumut mencoba meminta pendapat 2 petinggi Polri di Poldasu dan Polresta Medan. Namun sayang sekali, keduanya enggan memberikan keterangan kendati posisi jabatan yang dimiliki sudah cukup kompeten. "Tidak etis, sama komandan saja ya. Tapi kami memahami sumbangan pemikiran masyarakat terkait kinerja intelijen dan aksi anarkis yang terjadi. Itu saja yang bisa kami katakan," kata keduanya, seraya meminta namanya tidak dituliskan. 

     

    Aksi Anarkis Massa Pada Siang Bolong

     

    Seperti diberitakan MartabeSumut sebelumnya, sebanyak 9 unit angkutan bus, L300 dan angkot yang ditumpangi ratusan orang Pemuda Merga Silima (PMS) Kota Medan hancur diamuk orang tidak dikenal (OTK), Selasa siang (10/12/2013) di Jalan Guru Patimpus Medan. Pascakejadian, polisi terpaksa menutup total ruas jalan yang lumpuh akibat bangkai 9 kendaraan yang porakporanda. Pantauan MartabeSumut di lokasi, 10 menit setelah penyerangan dan perusakan, ke-9 angkutan tersebut teronggok berantakan di tengah jalan, persis di depan kuburan Sei Deli. Kondisi body/kaca bus, L300 dan angkot tampak hancur berantakan. Ban sebagian kendaraaan pecah-pecah akibat tusukan benda tumpul. Belum ada kabar pasti jumlah korban jiwa namun korban luka-luka dikabarkan mencapai belasan orang. Sumber MartabeSumut menyampaikan, kuat dugaan akan terjadi aksi balasan dari pihak PMS Medan pada lokasi yang sama pula. "Ada kabar mereka akan menyisir ke sana. Cuma waktunya tidak tahu kapan," katanya, Selasa malam (10/12/2013). Nah, apakah intelijen Negara masih tidur atau sudah bangun? (MS/BUD)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER