Selasa

21 Mei 2019

  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Rabu, 13 Maret 2013 | 14:17 WIB

    Telah dibaca 1529 kali

    Warga Samosir Vincentius Sitinjak Nilai Sosok Anggota DPRDSU Oloan Simbolon bak Jamur Perubahan

    Grevin
    Warga Kab Samosir Vincentius Sitinjak. (Foto: MartabeSumut/Ist)

    MartabeSumut, Medan

     

    Warga Kab Samosir Vincentius Sitinjak memberi penilaian atas sosok anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU) Oloan Simbolon, ST, yang dipublikasikan dalam rubrikasi media online MartabeSumut. Melalui releasenya yang diterima MartabeSumut, Rabu siang (13/3/2013), mantan Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Samosir yang juga bekas Sekretaris Dewan Tanfizt DPC Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Samosir, itu mengibaratkan sosok Oloan Simbolon bak jamur perubahan. Berikut petikan tulisan yang disampaikan:

     

    Seperti apa sosok perubahan yang diinginkan ??? Ada yang mengharapkan sosoknya gagah perkasa bagai tokoh pewayangan, atau seperti pahlawan perang dalam mitologi Yunani. Tetapi Kristus telah memberikan keteladanan sebagai tokoh perubahan, lemah lembut, penuh kasih, tetapi konsisten. berani, hingga akhirnya maut pun dikalahkan. Tokoh perubahan hadir. Jauh dari hiruk pikuk keperkasaan. Tapi dia bagai jamur yang hidup bersama pada ruang dan waktu.Merubah segala sesuatu yang keras, padat, dan kokoh. Olehnya semua berubah dari kuantitas menjadi kualitas.


    Kebersamaan saya dengan kakanda Oloan Simbolon sudah berlangsung sejak akhir tahun 2004. Ketika itu beliau masih menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Toba Samosir sekaligus calon Anggota DPRD terpilih Kabupaten Samosir. Artinya, masa jabatan di Kabupaten Toba Samosir masih tersisa beberapa minggu berikutnya, sementara dilain pihak Oloan akan segera dilantik sebagai Anggota DPRD Kabupaten Samosir hasil Pemilu 2004.

    Memaknai hubungan yang terjalin sejak saat itu hingga testimoni ini dituliskan, saya telah mencoba menelusurinya dari perspektif kehidupan sosial politik dan sedikit merambat kepada aktivitas organisatoris yang kami geluti bersama. Menyandang status sebagai pejabat publk, kakanda Oloan Simbolon kerap terlibat diskusi panjang tanpa batas dengan saya yang kala itu masih harus belajar banyak tentang praktik sosial politik dan tata kehidupan kemasyarakatan. Berbekal teori ala kadarnya dari pergerakan mahasiswa pada masa sebelumnya, saya melihat hasil diskusi kami memiliki persinggungan dan sampai kepada kesimpulan yang konkret untuk diimplementasikan. Baik pada tataran strategis maupun taktis.

     

    Strategis dan Taktis


    Pada tataran strategis, kita sepakat bahwa perjuangan politik adalah suatu panggilan untuk melayani sesama. Suatu kesimpulan yang ditempuh melalui poses panjang dan tidak sederhana. Berbicara tentang politik, tentu saja membutuhkan kesungguhan untuk memahami dan mendalami perilaku sosial politik secara utuh khususnya ditengah masa transisi demokrasi Indonesia yang berjalan pada bingkai sistem politik produk keinginan sekelompok orang sebagai representasi kekuatan status quo, anti perubahan, anti keadilan dan jauh dari semangat keberpihakan kaum minoritas.

    Sementara itu, pada tataran taktis, relativisme politik selanjutnya menuntut kejelian agar tidak terjebak pada sikap mendua, naif, hypocrite (munafik-Red) dan manipulatif. Bermain peran harus memiliki kemampuan teknis yang memadai untuk dapat memenuhi prasyarat yang dibutuhkan dalam sebuah gerakan politik. Apalagi gerakan tersebut dimaksudkan untuk mengusung sejumlah misi kepentingan masyarakat luas yang tidak jarang tereliminasi dan termarginalkan. Mengingat kekuatan politik terbentuk dari gugus material yang teragregasi melalui konsolidasi-konsolidasi kekuatan yang cenderung dikuasai oleh mereka-sekelompok oligarkhi dengan sumber daya ekonomi melimpah, maka tidak dapat dipungkiri masa transisi demokrasi di Indonesia, pada tingkat pusat (nasional) dan daerah (lokal), memposisikan sistem politik Indonesia masih sungguh-sungguh mengarah kepada paham liberalisasi demokrasi.

    Celakanya lagi, banyak pihak mudah tergoda oleh hasrat memperoleh kekuasaan (legislatif dan eksekutif) tanpa menyadari budaya dan perilaku politik pada masa transisi kekinian. Ketatnya persaingan cenderung diarahkan para politisi kepada sikap pragmatis merebut dukungan rakyat semisal; praktik jual beli suara, kampanye hitam merasuki dimensi primordialisme hingga sektarianisme seraya meninggalkan misi suci politik itu sendiri. Diatas kenyataan semua itulah Oloan telah dan masih harus menentukan sikap!!!

    Sebagai Pimpinan DPRD Kabupaten Samosir dalam kurun masa jabatannya (2004-2009), Oloan terlihat gigih berupaya memainkan peran sentral dalam proses pengambilan keputusan pada lingkungan internal institusi DPRD. Dalam pandangan saya, dia selalu konsisten memikirkan kepentingan lebih luas kedepan, untuk selanjutnya kelak berusaha lagi mempengaruhi terlaksananya tatanan kehidupan politik dan pemerintahan Kabupaten Samosir yang lebih berpihak kepada kemajuan pembagunan daerah dan percepatan kesejahteraan masyarakat.

     

    Perilaku Politik di Wilayah yang Baru Otonom


    Pada saat itu, Samosir adalah daerah otonom yang baru berdiri. Budaya pemerintahan dan perilaku politiknya dipengaruhi oleh pola komunikasi dan sistem budaya lokal. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pemangku jabatan di daerah tersebut, terlebih kemampuan menjaga komitmen kepemimpinan yang terindikasi kurang profesional. Manakala tuntutan masyarakat, tuntutan relasi antar lembaga pemerintahan kadang-kadang telah didahului oleh tameng pola komunikasi kearifan lokal yang sepenuhnya tidak diakomodir oleh sistem tata pemerintahan dan tata politik, maka atas nama kearifan lokal, sering terjadi pemanfaatan kultur. Bahkan tidak jarang melenceng dan berpotensi melahirkan power sharing antara pPenyelenggara pemerintah daerah dengan mereka yang menggunakan budaya, adat istiadat, dan kekeluargaan sebagai pintu masuk untuk kepentingan sepihak elite, kelompok maupun kekuasaan sesat.


    Sejalan dengan kondisi tersebut, memainkan peran untuk memenuhi tuntutan ideal sebagai wakil rakyat di DPRD relatif cukup sulit oleh karena situasi dan kondisi yang saya ungkapkan di atas. Sementara dilingkungan masyarakat, menjelaskan sesuatu yang objektif dan realistis tidak serta merta mudah apalagi mendapat respon positif. Inkonsistensi penyelenggara pemerintahan telah disimpulkan oleh publik sebagai rekor buruk dan berlaku secara umum terhadap siapapun yang terlibat dalam lingkungan pemerintahan (khususnya anggota DPRD).

    Bagi seorang Oloan Simbolon, mencermati situasi dan menempatkan posisi pada ruang kehidupan politik dan pemerintahan yang berjalan tidak pada ranah profesional dan belum matang, adalah menjadi langkah penting dan strategis dalam derap aktivitasnya. Maka membangun komunikasi dengan sesama Anggota DPRD setempat dan membangun komunikasi lintas kelembagaan dijadikan kunci sukses utama untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat secara umum. Meskipun harus diakui, bahwa tidak semua lapisan masyarakat dapat merasakan dampak kebijakan publik yang dirumuskan bersama antara DPRD dan Pemerintah Daerah. Namun ditengah berbagai keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran, saya menyaksikan Oloan Simbolon telah melakukan fungsi dan peran melampaui kapasitasnya. Peran yang muncul seketika dan tiba-tiba bak jamur di pagi hari yang memberi perubahan pemandangan.

     

    Tanggungjawab Berat


    Dilantik sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara periode 2009-2014, hasil Pemilu 2009, Oloan Simbolon mengemban tugas dan tanggungjawab yang lebih berat. Selain itu juga, posisi sebagai Ketua Komda Pemuda Katolik Sumatera Utara sejak tahun 2007 harus dijalankan secara bersinergi dengan tugas-tugas sebagai Anggota DPRD. Tidak semua orang dapat memahami akan terbatasnya kewenangan Anggota DPRD, apalagi sang Anggota DPRD tersebut berasal dari Partai kecil. Oloan Simbolon merupakan satu-satunya anggota DPRD yang berhasil terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari partai kecilnya. Sebab perlu diketahui, pada level kelembagaan DPRD Provinsi, keberadaan partai cukup menentukan bagi kiprah anggota DPRD yang diusung.  

    Realitas politik yang dialami Oloan Simbolon tidak menyurutkan peran kritisnya dibanding 99 anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara lainnya. Kemampuan untuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak telah menempatkannya pada posisi sebagai seorang dengan identitas dan eksistensi yang tegas mewakili masyarakat yang memberikan kepercayaan kepadanya. Dari sekian banyak anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, dapat dipastikan bahwa Oloan Simbolon adalah anggota DPRD dengan kemampuan finansial yang pas-pas-an. Dia bukanlah seteru yang perlu diperhitungkan dari sudut pandang sumber daya ekonomi. Kendati demikian, Oloan merupakan seorang yang sering tampil percaya diri dalam setiap dinamika politik DPRD Provinsi Sumatera Utara maupun kegiatan organisasi dan sosial kemasyarakatan yang membutuhkan pengorbanan serius (waktu, tenaga dan finansial) di tengah-tengah masyarakat.

     

    Memandang Politik Sebagai Pencerahan


    Dalam kaca mata saya, Oloan Simbolon itu memandang politik sebagai pencerahan. Bukan transaksional terutama pada tataran grass root sebagaimana secara kasat mata telah dipertontonkan oleh mayoritas politisi di Indonesia. Oloan mengabdikan diri secara utuh kepada masyarakat sesuai dengan kewenangan yang dimiliki (meskipun sangat terbatas oleh sistem), serta pendedikasian segala kemampuan yang ada. Fakta peran Oloan tersebut jauh lebih baik dan abadi daripada memberikan sesuatu (uang) yang seolah-olah menjadi tanda kebaikan dan kemurahan hati. Karena sesungguhnya, dari peran 1 orang Oloan Simbolon, tidak sedikit pula perilaku politisi yang bagga mempertontonkan terang-terangan gelagat murahan money politics. Satu perilaku yang secara langsung telah menghina masyarakat, bangsa dan negara, serta patut secepatnya dipermalukan di depan pengadilan.

    Pola komunikasi atau gaya berbahasa Oloan Simbolon cukup sederhana tetapi substansial. Demikian juga dengan performa yang dilakoninya. Meminjam istilah Edward T. Hall (1976), seorang ahli budaya, Oloan Simbolon dalam mengungkapkan gagasan, maksud dan harapannya dikategorikan kepada gaya low context culture (lawan dari high context culture). Yaitu suatu penyampaian maksud, tujuan dan harapan secara lugas, terang, tidak bersayap, sehingga masyarakat yang dihadapinya tidak perlu bingung dan bertanya-tanya. Oloan tidak segan-segan untuk membedah akar permasalahan yang sebenarnya, meskipun hal tersebut telah mengusik mereka yang memiliki kuasa dalam pranata sosial tertentu. Oloan Simbolon membongkar berbagai mitos yang menyesatkan pola pikir masyarakat dan terkadang hal ini sering mengundang rasa tidak senang terhadap dirinya.

     

    Pesan Buat Oloan


    Satu pesan penting untuk Kakanda Oloan Simbolon, bahwa dia adalah jamur perubahan negara dan harapan dari banyak orang atas petualangan maupun pengabdian organisatoris (lebih dari dua dekade). Oloan Simoln juga harapan dari masyarakat yang tereliminasi dan termarginalkan. Penting adanya siasat untuk tetap memberikan pencerahan secara terus menerus agar tercipta semangat partisipatif masyarakat luas di semua aspek demi kehidupan yang lebih baik. Perjalanan masih panjang, tuaian masih banyak, tetapi pekerja sedikit. Selamat berjuang dan jangan lupa kembali. Salut dan hormat membaca teknik/gaya penulisan sosok Oloan Simbolon di rubrikasi MartabeSumut. Semoga media online kritis dan realistis MartabeSumut bisa eksis menjadi sumber informasi yang mencerahkan, mendidik, media kontrol sosial, sarana pengenalan sosok-sosok tertentu, ajang memahami perkembangan dan bingkai bertukar wawasan bagi warga Sumatera Utara, rakyat di Indonesia serta penduduk dunia yang mengaksesnya. Terimakasih, salam, horas..!!! (MS/GREVIN)

    Share this

     
     

    Berikan Komentar Anda 'Warga Samosir Vincentius Sitinjak Nilai Sosok Anggota DPRDSU Oloan Simbolon bak Jamur Perubahan'


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER